Udara pagi yang sejuk adalah udara pertama yang ku hirup di SMA ini.
Hatiku senang sekali, karena hal yang ku impikan sejak aku berpacaran
dengannya terwujud kami bisa bersekolah di sekolah yang sama. Sebenarnya
orangtuaku ingin aku masuk ke sekolah lain tetapi karena aku
menginginkan sekolah disini, aku pun diperbolehkan bersekolah disini.
Sejak awal pendaftaran hingga mengikuti mos aku dan dia memang saling
curi-curi pandang karena kami tidak tahan jika tidak bertemu satu sama
lain walaupun tidak berbicara. Saat mengikuti pengarahan pun dia masih
sempatnya memilih tempat yang bersebelahan denganku.
“Sin kamu, capek gak?” tanyanya.
“Ngga ji, kenapa? kamu keliatan haus, ini aku punya air minum buat kamu.” jawabku
“thanks ya sinta sayang” ujarnya pelan. Hanya ku jawab dengan senyuman
termanis yang ku berikan. Seperti itulah kegiatan yang kami lakukan
selama mengikuti kegiatan mos di sekolah itu.
Seminggu setelah mos kejanggalan pun terasa bagiku. Ya! dia hanya
menghubungiku sebentar setelah itu menghilang entah kemana. Suatu malam
aku pun meminta penjelasan padanya.
“Ji, kamu kenapa sih tiap hari susah banget dihubungin, sms lama banget
dibales eh kalo aku telfon kamu, kamu nya diem mulu, kalo ditanya kamu
selalu jawab lagi bales sms dari temen, sebenernya siapa aja sih temen
temen yang sms kamu itu?” tanyaku sedikit emosi
“ini ada nita, sama dini” jawabnya singkat
“bilang dong kalo malem tuh gak usah sms ato 3x sehari bales sms mereka
tuh, waktu kamu untuk aku tuh udah gak ada lagi, kalo emang kamu udah
berubah ya udah kita putus aja” kataku.
“nggak sayang, aku minta maaf, iya aku gak akan gitu lagi kok, kita
baikan ya, mereka tuh yang mau deket sama aku, bukan aku kok yang
deketin mereka.” jawabnya.
“oke kita baikan, tapi kalo sekali lagi kita putus beneran ya sayangku?” kataku sedikit mengancam.
“iya sayangku yang paling cantik” jawabnya
Beberapa hari memang ada perubahan darinya, tapi seminggu sudah
dilewati semua terulang kembali hingga aku pun memutuskannya. Aku
menginginkannya memikirkan perasaanku dan setelah dia sadar dia kembali
padaku seperti biasanya. Namun setelah 2 bulan pun dia tetap menjadi
seperti itu dan kami melakukan HTS (Hubungan tanpa status).
Suatu hari saat masuk sekolah, aku mendapatkan kabar jika dia pulang
bersama teman SD nya yang memang sekarang dekat dengannya. Dan menurut
penuturannya perempuan itu menyukainya. Aku pun langsung tidak
menghubunginya sampai keesokan harinya. Suasana di kelas besoknya pun
sedikit berbeda.
“Sin kamu kenapa? apa aku buat kesalahan lagi sama kamu?” katanya tiba-tiba ketika aku sedang melamun.
“Nggak gak papa kok gak ada gak usah peduliin aku lagi” jawabku singkat sembari menjauh darinya.
Aji pun mengikuti ku sampai kami berhenti di labor fisika, dan ketika
tanganku diraihnya, dia menarikku kembali ke kelas. Semua perhatian pun
tertuju pada kami.
“Sin coba kamu cek hp, aku mau kamu bales dan itu cepet.” Katanya sambil
menatapku tajam. Aku paling tidak bisa jika dia menatapku seperti itu.
Aku pun menurutinya membuka hp dan segera ku balas pesan singkat itu
dengan jawaban: Aku gak papa tapi hati aku sakit, aku tau kamu pulang
sama dia kan, udah gak papa aku gak marah kok, kita kan udah gak ada
hubungan gak berhak juga aku marah sama kamu.
“Sin maaf aku sayang kamu, aku gak tau kalo kamu cemburu tapi aku gak
akan ngulangin lagi kok, kemarin waktu aku mau pulang, dia mau ikut aku,
ya aku ajak aja, maaf ya” katanya yang membuatku percaya padanya.
“Oke tapi kamu gak boong kan? aku maafin kamu” jawabku. Namun seperti
biasa semua terulang kembali dan aku terus saja memaafkannya.
Dan suatu ketika aku mendapatkan kabar bahwa dia sudah berpacaran dengan wanita itu.
“Ji, aku mau kamu jujur kamu pacaran sama dini ya?” kataku padanya saat kami sedang mengerjakan soal fisika siang itu.
Dengan sedikit kaget dia berkata “kata siapa? emang kenapa?” dengan senyumnya.
Dengan sedikit menahan air mata aku pun berkata “Kalo iya mau minta peje bakso tempat kita makan” sambil tertawa.
“Iya aku pacaran, kapan mau makan?” jawabnya tanpa nada bersalah.
“Gak usah kok, makasih ya udah kaya gini ke aku”
Dengan air mata mengalir aku pun berlari menuju kamar mandi menangis
sejadinya di dalamnya. Seluruh teman teman dan sahabat karibku
menungguku keluar dari kamar mandi tersebut.
“Aku gakpapa ko” dengan sedikit tersendat aku menjawab semua pertanyaan mereka yang terlihat dari mata mereka.
Aku kembali ke kelas dengan perasaan yang hancur sekali karena saat
kemarin dia berkata akan selalu mencintaiku dan tak pernah mau
menggantikan diriku dengan orang lain. Ya aku tau dulu dia adalah orang
yang paling menepati janji dan sekarang dia adalah seorang pecundang.
Keesokan harinya aku kembali mendengar kabar jika dia sudah
berpacaran selama setahun lebih. Hatiku semakin hancur, aku pun tak
dapat membendung tangisku. Semakin hari hidupku hancur, entah sudah
berapa banyak air mata yang ku keluarkan selama sebulan ini karena aji
berpacaran dengan dini.
“Sin, aku sayang kamu, aku gak mau kamu ninggalin aku, aku janji
secepatnya aku putusin dini tapi gak tau kapan,” ujarnya ketika aku
pulang sekolah bersamanya.
“Iya aku pegang janji kamu tapi aku gak mau kamu nyakitin aku lagi,” harapku
“iya aku janji sayangku” ucapnya
Lebih dari sebulan aku menunggu janji itu ditepati malah tak kunjung
ditepati, dan malah semakin menjadi saat mereka berpacaran di depan
mataku. Menjelang hari ulang tahun ku yang ke 15 tahun, aku pun semakin
kecewa padanya. Namun saat hari yang dinantikan tiba aku membaca sms
dari dini untuknya “jangan pacaran sama sinta ya pacarku sayang, kamu
cuma pacar aku bukan pacar dia” seketika hariku hancur seketika.
Saat siang kedua sahabatku Vina dan Trinia sudah memesan sebuah cake
untuk ultahku. Aku dan Aji pun pergi ke sekolah karena mendapat
panggilan ke sekolah sekarang. Saat di jalan, Aji ingin aku pulang ke
rumah, tapi aku bersikeras ingin ke kelas. Sampai di gerbang aji
berkata, “sayang aku anter sampe sini aja ya, gak usah masuk, biar dini
gak curiga” aku pun menjawab “gak mau anter aku sampe dalem bodo amat
dia mau liat ato enggak aku gak peduli yang nganter aku kesini itu
kamu!” jawabku dengan nada tinggi.
Setelah itu aku tak pernah lagi bersamanya. Aku pun perlahan menjauh
darinya setelah terjadi pertengkaran hebat di antara kami bertiga dan
Aji memihak pada Dini. Aku pun perlahan menenangkan hatiku walau
sebenarnya aku masih sangat menyayangi lelaki itu, dan masih belum bisa
melupakannya. Aji masih saja sering sms, chat fb, skype, berkata bahwa
dia sangat menyayangiku dan tidak menginginkan aku pergi darinya. Tapi
apa boleh dikata nasi telah menjadi bubur kepercayaanku padanya sudah
sirna semua. Aku memang menyayanginya dan masih mengharapkannya, tapi
aku tau jika mungkin suatu saat beban hati ini perlahan akan lepas dari
hidupku. Aku pun sama sekali tak pernah mau berbicara padanya bahkan
untuk berpapasan dengannya rasanya aku ingin menangis. Hingga saat ini
pun aku masih sangat menyayangimu, namun aku tak tahu sampai kapan rasa
sayang ini akan ada, aku yakin jika itu semua hilang mungkin suatu saat
kamu akan butuh aku di sampingmu.
Dan saat ini aku sedang melupakanmu dan aku sedang berusaha untuk
meraih cita citaku dan mewujudkan mimpiku dengan semua masalah yang
telah kamu perbuat. Ya masalah itu timbul hingga guru pun mencaci ku di
setiap kelas yang diajarnya, ataupun kakak kelas yang membenciku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar